Pengumpan:
Tulisan
Komentar

By : R4RH4 (4121X13)

“De’..cariin pendamping buat kakak yaa ?? Mas Rizal udah siap nikah nih !!”, begitu tulis e-mail Mas Rizal, kakakku yang kerja di Batam kepadaku, singkat dan jelas..tapi susah !!

Sebab, aku akhir-akhir ini ngerasa jengah banget dengan kriteria macem-macem dari kakakku. Susah juga punya kakak yang bujang lapuk banget seperti dia..abis usianya sudah bisa dikategorikan tua banget, 27 tahun. Memang, menurut dia belum tua banget, abis temen-temen kakak di Batam, sama juga seperti kakak, belum ada yang nikah di usia segitu..bujang lapuk, gitu aku menyebutnya. Lanjut Baca »

Aih… Aih…

Cinta, duuuh cinta…
Virus cinta emang bisa bikin blingsatan dan jungkir balik gak karuan. Uring-uringan, hingga makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Bahkan dapat merubah pribadi seseorang, yang awalnya benci banget kata-kata puitis nan manis, mendadak jadi pujangga yang pandai menebar janji tuk memikat hati.

Sambil bersimpuh dengan seikat bunga mawar ditangan, sang pujangga pun merayu sang pujaan, “Duhai belahan hati, tak dapat kuhidup tanpa dirimu di sisi.” Lanjut Baca »

Ibu, Sinonim Cinta

Sesungguhnya anugerah yang begitu besar yang ALLAH SWT turunkan di bumi, adalah ketika Dia menciptakan dan kemudian menitipkan rasa CINTA di hati kita. Dan soal cinta, rasanya guru kehidupan yang kita patut belajar darinya, adalah Ibu. Dalam kamus hidupku, IBU adalah sinonim dari kata CINTA.

Malin Kundang Pantas Jadi Batu
Siapakah dia yang tulus memberi tanpa berpikir nanti akan menerima ? Seperi mentari yang menyinari bumi, tak sedikitpun berharap untuk dibalas. Aku begitu ingat ketika banyak hal yang mengecewakan yang telah kuperbuat, dan ketika itu Bapak begitu geram, Mamah yang meredakan amarahnya, dan berusaha untuk tetap mengingatkan dan terus mengingatkanku, agar memperbaiki diri. Tidak hanya saat itu, tapi esoknya, lusa dan hari-hari berikutnya. Tanpa lelah Mamah selalu mengingatkanku. Bahkan hingga menetes air matanya, mengalir, kecewa bercampur sedih, ada marah mungkin, tapi jika saja ada satu kata yang tepat merangkumnya, kata itu adalah : CINTA.

Seberapapun banyak luka yang kita torehkan di hatinya (Ibu), takkan mampu membuatnya berhenti mencintaimu.

Aku ingat bagaimana air matanya mulai mengalir, karena kakiku yang luka dan ketika napasku mulai tersengal-sengal karena sakit yang tiba-tiba suatu ketika. Ada kekhawatiran yang begitu besar. Bahkan saat didengarnya aku demam sedikit, beliau segera saja mencarikan obat. Masih teringat di memoriku, ketika beliau merelakan perhiasannya, untuk keperluanku, padahal aku tahu itulah satu-satunya barang berharga yang dia miliki. Mungkin beberapa diantaranya terkesan berlebihan, tapi mamah yang tidak tamat pendidikan tinggi hanya bijak berkata : yang penting kamu bahagia. Ah belakangan aku mulai sepakat soal kutukan, menurutku sangat pantas malin kundang jadi batu.

Antara Hidup dan Mati
“Saat itu benar-benar aku nangis, sejadi-jadinya”. Bang Kadir, teman kantorku menuturkan saat-saat istrinya dalam persalinan. “Seharian istriku, menahan sakit, mengeden tapi tak juga anakku keluar dari perut istriku. Sampai istriku kelelahan, enggak bisa ngeden lagi. Saat itu aku, dan sanak keluarga disitu nangis sejadi-jadinya. “, begitu Bang Kadir mengisahkan pengalamannya. Jadi teringat juga cerita Bang Iwan. “Nangis aku, ngeri kali aku ngeliatnya. Yang namanya antara hidup dan mati itu benar”, Bang Iwan salah satu supir di kantorku menuturkan bagaimana perjuangan istrinya melahirkan.

“Antara hidup dan mati”. Kalimat itu tiba-tiba membuatku (kembali) ingat Mamah. Perbuatanku yang banyak mengecewakannya, hari-hari ketika aku menjadi duri dalam keluarga, dan hampir tak ada hal baik yang kuperbuat, sementara begitu besar cinta yang telah beliau berikan, berkelebat di benakku.

Saat kucoba mengingat apakah ada hal yang membuat mamah bangga pada diriku, dibenakku malah muncul ketika mamah malu pada tetangga, malu pada guru-guruku di sekolah, malu pada saudara, bahkan malu pada dirinya sendiri, karena begitu sulitnya mengajakku memperbaiki diri, bahkan sekadar untuk mengurangi kenakalanku.

Mataku mulai pedih, berembun dan saat itu tak terasa ada yang mengalir di sela-sela mataku. Setetes, beberapa tetes dan terus semakin deras. Ada yang bergejolak di dadaku dan seperti ada yang meleleh, dan akupun sudah tersungkur dihadap-MU.

Ya Rabb, hamba mohon dengan sangat, berikanlah kebahagiaan yang tiada habis hingga akhir hayatnya, pada mamahku. Dan jadikanlah hamba salah satu pintu kebahagiaannya.

Medan, 07 Juni 2009

Simpang Jalan

Aku letih …

Berjalan sendirian …

Aku letih …

Dalam kesepian …

Tuhan …

Kumohon, jika Kau tak izinkan aku menunjuk satu bintang milik-Mu

Tunjukkanlah satu bintang untukku …

(Medan, 061208)

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya ‘kufu’ ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, “Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan” Lanjut Baca »

“Amrozi, Kita, Mati”

Dini hari, kemarin, tiga orang yang didakwa menjadi dalang sejumlah teror Bom akhirnya dieksekusi. Setelah sekian lama “menggantung” pemerintah melalui Kejaksaan Agung akhirnya mengeksekusi ketiganya, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera, dengan hukuman tembak peluru tepat ke Jantungnya. Mati. Saya tak tertarik untuk berdebat apakah ketiganya masuk surga atau neraka. Wallahu’alambishowab.

Tapi satu hal yang menggoda pikiran saya, bagaimana seandainya kita tahu kapan hari dimana hidup kita berakhir. Saat semua kenikmatan dunia “direnggut”, atau tepatnya “diminta kembali” oleh Sang Pemilik Kehidupan, ALLAH SWT. “Pastinya kalo gitu mah semua orang jadi rajin Ibadah”, begitu kawanku langsung nyosor menanggapi. Tapi bagi saya mungkin ya tapi mungkin juga tidak.

Kenapa ? Seorang rekan kerja di kantor lama yang, maaf, tergolong laki-laki “hidung belang”, pernah mengatakan begini sama saya, “…hidup di dunia hanya sekali, terus kalo mati ya selesai gak ada lagi, jadi ya karena itu nikmati sepuas-puasnya hidup ini”. Maksudnya bahkan kalo setiap saat terus mengobral nafsu hewani kita. Astagfirullah haladzim.  Mungkin kawan saya ini memang tak tahu kapan hari dimana malaikat maut menjemputnya, tapi sesungguhnya dia, termasuk kita, sadar bahwa pada akhirnya kita akan seperti amrozi cs, mati.

Mudah-mudahan dalam setiap saat, tiap hela nafas, bahkan dikala dosa (besar) kita lakukan, ALLAH selalu mengingatkan kita akan mati. Zikrul maut.

“Kantor Gelap”

Medan, 1:37 PM at the office

Setelah “habis beneran” uang saya semasa lliburan lebaran kemarin, awal bulan di tempat saya bekerja beredar isu bahwa bulan ini gaji karyawan bakal telat. Sehari, dua hari hingga hari ini tanggal empat, bertepatan dengan hiruk pikuk pemilu AS, isu itu ternyata jadi kenyataan. Terlebih bagian keuangan kantor, katanya mendapat email dari kantor pusat, bahwa gaji baru ditransfer pada tanggal lima november.”Gelap neh aku sampai tanggal lima”, begitu seorang kawan mengeluhkan kondisi keterlambatan gaji. Lanjut Baca »

Obama Effect

4 November waktu Amerika Serikat, rakyat setempat akan memberikan suaranya, yang bakal menentukan siapa yang berhak memimpin negara adidaya tersebut. Selain krisis global yang bersumber dari macetnya kredit property di AS, pemilu negeri Paman Sam menjadi hal yang paling banyak diikuti oleh seluruh umat dunia, dari waktu ke waktu. Bukan apa-apa, kebijakan penguasa AS akan secara langsung dan atau tidak langsung mempengaruhi wajah dunia secara global. Suka atau tidak suka, begitulah yang terjadi.

Di Indonesia, rata-rata mereka yang mengikuti perkembangan politik AS kesengsem pada Obama muda. Hampir tidak ada berita yang menayangkan, paling tidak menurut pengamatan saya, ada warga RI yang mendukung John Mc Cain yang veteran itu. Meski seorang veteran TNI sekalipun. Mungkin salah satu alasan karena secara emosional Obama “lebih dekat” dengan Indonesia. Waktu kecilnya pernah sekolah di salah satu SD di Jakarta. Kawan-kawan eks SD tersebut bahkan rela memberikan waktu luangnya untuk “mendirikan” semacam perkumpulan pendukung Obama.

Hal lain, bagi aktivis dan politisi muda, figur Obama dipandang mewakili spirit perubahan yang efeknya dirasakan kini : kaum muda dianggap publik juga mampu (kembali) berperan. Dan kaum tua diminta untuk legowo jika kontestasi politik saat ini kaum muda lebih dianggap menarik dan memberi “janji perubahan”. Toh bukankah founding father and mother bangsa kita, memimpin negeri ini bahkan disaat mereka umur 20-an dan 30-an. Dimana negeri ini masih begitu belia, terhitung sejak kemerdekaannya.

Saya pribadi, dalam konteks agenda kebijakan luar negeri di Palestina, beranggapan baik Obama atau John Mc Cain, bakal sama saja. Sudah banyak dokumen dan berita yang menunjukkan bahwa “lobi politik Yahudi” di AS begitu kuat. Masih dalam ingatan, betapa awal-awal kampanye Obama dengan sengaja berpidato di hadapan sejumlah petinggi AS keturunan Yahudi untuk meraih dukungan dan simpati. Ini yang kemudian kenapa setiap kedzolimin yang dilakukan Zionis Israel terhadap muslim Palestina, AS hampir tak pernah berkoar-koar, kecuali sebatas diplomatik yang datar-datar aja dan tanpa ketegasan yang nyata.

Tapi andai saya, “dipaksa” memilih tentu saya akan cenderung memilih yang paling sedikit mudharatnya. Semoga nasib baik bersama Obama …

“Kontemplasi”

My Office 21:51 PM Medan

Dalam kesendirian, hal-hal yg begitu membekas adalah orang-orang yang banyak “memberi” pada kita. Orang tua salah satunya, sekuat apapun seorang anak manusia menghapus “memori” tentang orang tua, tentulah muskil hasilnya. Karena merekalah yang paling banyak “memberi” dalam hidup kita.

Selain itu, hal yang muncul dalam kesendirian dan perenungan, adalah keyakinan kata-kata yang “klasik”, “kita akan menganggap sesuatu itu berharga tatkala sesuatu itu sudah tak ada dalam hidup kita”. Teman dekat, kekasih, bahkan masa muda. Yang terakhir sudah tentu pasti takkan kembali, maka bagi kawan-kawan saya yang masih belia, beranjak remaja, termasuk adik saya tentunya, jangan pernah berhenti untuk mencari ilmu, belajar dan belajar. Lagi-lagi “klasik”, tapi faktanya jelas. Salah satu kawan saya yang boros, membuang-buang masa mudanya untuk hal-hal yang jauh dari manfaat bahkan merugikan, hasilnya saat ini hidup terlunta-lunta, bahkan ada yang jadi, maaf tanpa bermaksud merendahkan profesinya, tukang ojek dan bangsat Lanjut Baca »

11 : 23 PM Medan – Kamar Kos

Kebahagiaan dalam hidup ada pada “memberi” bukan “menerima”. Semakin banyak kita “memberi” sesungguhnya semakin banyak yang bakal kita dapat. Paling tidak sebentuk energi positif, dalam perspektif ajaran kebijakan Yin Yan Cina dan Fisika. Itu yang kutahu. Islam lebih-lebih memotivasi pemeluknya untuk tidak memiliki mental peminta-minta, bangsa budak kalau kata Bung Karno. “Tangan diatas lebih terhormat ketimbang tangan di bawah”, begitu Islam menekankan. Selain itu dalam konteks matematika sedekah, seperti yang acap disampaikan ustadz Yusuf Mansyur, justru dengan memberi Allah akan melipatgandakan apa yang kita dermakan utamanya pada orang yang jauh lebih sulit dari kita, baik segera diganjar saat itu atau nanti dalam bentuk lain dalam alam setelah dunia fana. Lalu, sebagai pemuda sudah kah kita banyak memberi ketimbang meminta ? Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.